Karya Jakarta Biennale 2009: The Meeting, Donna Ong, Grand Indonesia Mall

Jakarta Bienalle 2009 : 'The Meeting', Donna Ong, Grand Indonesia Mall

Jakarta Bienalle 2009 : 'The Meeting', Donna Ong, Grand Indonesia Mall

Lokasi

Grand Indonesia Mall

Latar Belakang

Melihat ‘The Meeting’, kita akan kembali ke sejarah abad ke-20 tentang hubungan diplomatik antara Jepang dan Amerika. Dimulai dari latar belakang pengesahan Undang-undang oleh Kongres pada tahun 1924 untuk menjaga Amerika Serikat bebas dari imigran Asia Timur.

Berharap untuk mendorong rasa toleransi antara masyarakat kedua negara tersebut, Reverend Sidney Gulick, mantan misioner Amerika yang datang ke Jepang, membuat Proyek Boneka Persahabatan untuk mengirim sejumlah boneka untuk anak-anak Jepang sebagai tanda yang baik. Pada Januari 1927, 12739 boneka bermata biru yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh Amerika Serikat, telah dikirim ke Jepang tepat pada saat Hina Matsuri, festival boneka tahunan Jepang. Sebagai balasannya, Jepang mengirim 58 boneka persahabatan ke Amerika Serikat, semuanya mengenakan kimono lengkap dengan aksesoris yang rumit. Boneka-boneka Jepang tersebut mewakili 47 daerah, 6 kota besar, 4 wilayah, dan satu area imperial.

Tetapi sejarah berkata lain. Setelah pemboman di Pearl Harbor dan kancah masuknya Amerika Serikat ke dalam Perang Dunia II, sebagian besar Boneka Persahabatan disimpan dari museum dan galeri tempat penyimpanannya. Nasib yang sama menimpa boneka-boneka bermata biru di Jepang, banyak yang dibakar sesuai dengan pesan pemerintah Jepang.

Berdasarkan Proyek Boneka Persahabatan 1927, ‘The Meeting’ yang merupakan rangkaian foto hitam-putih, dimana boneka-boneka dari kedua negara (Jepang dan Amerika) dipertemukan satu sama lain dalam berbagai rumah boneka dengan banyak macam interior. Tiap ke-limabelas pertemuan dibuat dengan tata letak yang sama, yakni dengan dua boneka saling menghadap, saling diam dalam gelapnya interior. Perlahan cahaya melewati bukaan di ruang tersebut dan menyajikan pemandangan yang baik membayang-bayanginya dengan suasana yang berubah-ubah, juga penanda berlalunya waktu. Efek suara dibuat oleh seniman, Issac Teo, yang memperkuat suasana dan ke-ambiguitas-an dari ke-15 pertemuan tersebut — kadang ramah, kadang tidak menentu, dan pada saat tertentu, menegangkan.

Pendapat/Opini

Karya ini merupakan salah satu karya Jakarta Bienalle di Grand Indonesia yang sangat menarik. Banyak aspek yang dapat diperoleh dari karya ini hanya dengan sekali lihat saja. Keindahan indrawi, rasa takut, suasana yang mencekam, dan rasa-rasa yang tak terungkapkan bisa mengalir begitu saja. Boneka-boneka tersebut, sebenarnya harusnya menjadi tali pengikat Amerika Serikat-Jepang, tetapi malah diperlakukan seperti itu. Karya ini merupakan dokumentasi historis antara Amerika Serikat dan Jepang yang berubah ‘masam’ karena Perang Dunia II.


About this entry